HASIL LAB MBG GEMBONG TERUNGKAP: NASI BAKAR DAN ORAK-ARIK TEMPE POSITIF BAKTERI

PATI —BUSERPOST.COM. Misteri dugaan keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, mulai menemukan titik terang. Hasil pemeriksaan laboratorium parameter mikrobiologi menemukan adanya kontaminasi bakteri pada sejumlah sampel makanan yang disajikan kepada para siswa.

Temuan tersebut membuat keamanan proses penyediaan makanan MBG kembali menjadi sorotan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang disampaikan Dinas Kesehatan Jawa Tengah, sampel nasi bakar diketahui positif mengandung Escherichia coli (E. coli), Bacillus sp., dan Bacillus cereus. Sementara sampel orak-arik tempe/tempe kering positif mengandung Bacillus sp. dan Bacillus cereus.

Dari lima sampel makanan yang diperiksa, sampel lain yakni timun, semangka, dan kerupuk dilaporkan negatif dalam pemeriksaan mikrobiologi yang disampaikan Dinkes Jateng.

BUKAN SEKADAR TEMUAN DI MAKANAN

Persoalan menjadi semakin serius karena pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap makanan.

Sampel muntahan korban juga dilaporkan positif mengandung Bacillus sp. dan Bacillus cereus. Dalam laporan lain mengenai hasil pemeriksaan, sampel feses juga ditemukan mengandung bakteri, termasuk Staphylococcus aureus dan E. coli.

Namun, temuan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa satu jenis bakteri tertentu merupakan penyebab tunggal keracunan.

Kepala Dinkes Jateng Zulfachmi Wahab menyatakan terdapat lebih dari satu jenis bakteri yang ditemukan sehingga perlu dilakukan pencocokan dengan kondisi di lapangan untuk melihat kemungkinan sumber kontaminasi.

E. COLI DAN SANITASI JADI PERHATIAN

Temuan E. coli pada nasi bakar menjadi salah satu titik yang perlu ditelusuri lebih jauh.

Dinkes Jateng menyebut keberadaan E. coli dapat menjadi petunjuk untuk mengevaluasi sanitasi, terutama sumber air yang digunakan dalam proses pengolahan makanan. Pemeriksaan juga perlu melihat bagaimana sumber air tersebut dikelola dan apakah terdapat potensi kontaminasi.

Sementara itu, keberadaan Staphylococcus aureus dapat menjadi bahan evaluasi terhadap proses penanganan makanan, termasuk kebersihan tangan para penjamah makanan.

Dengan demikian, persoalan ini tidak berhenti pada menu yang disantap siswa. Rantai prosesnya perlu dilihat secara menyeluruh—mulai dari air, bahan baku, pengolahan, kebersihan pekerja, penyimpanan hingga distribusi makanan.

HASIL LAB BELUM FINAL

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luky Pratugas Narimo menegaskan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium belum seluruhnya diterima.

Parameter mikrobiologi telah keluar, tetapi masih terdapat parameter kimia yang belum selesai. Setelah seluruh hasil tersedia, akan dilakukan ekspertisi oleh dokter spesialis patologi klinik sebelum hasil tersebut disampaikan kepada Satgas MBG Kabupaten Pati.

Artinya, hasil positif bakteri yang kini terungkap merupakan bagian penting dari proses penyelidikan, tetapi belum menjadi kesimpulan akhir mengenai penyebab keracunan.

PUBLIK MENUNGGU JAWABAN

Kasus Gembong menyisakan pertanyaan besar mengenai pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG.

Ketika makanan yang diberikan kepada siswa ditemukan mengandung bakteri, publik tentu menunggu penjelasan yang utuh: dari mana kontaminasi berasal, pada tahapan mana terjadi, siapa yang bertanggung jawab atas pengawasan, serta langkah konkret apa yang dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.

Temuan laboratorium seharusnya tidak berhenti sebagai angka dan nama bakteri di atas kertas.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap celah dalam rantai penyediaan makanan diperiksa dan diperbaiki.

Sebab program makanan bergizi untuk anak seharusnya berujung pada kesehatan, bukan justru membawa siswa ke ruang perawatan.

Red.