PATI —BUSERPOST.com Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati kembali mendapat sorotan. Bukan karena kekurangan menu, melainkan karena persoalan pengawasan makanan. Siswa SMK Bhina Tunas Bakti (BTB) Juwana kembali menemukan ulat dalam paket MBG yang mereka terima.
Temuan tersebut bukan kejadian pertama. Dalam kurun waktu kurang dari sepekan, ulat dilaporkan ditemukan dua kali, yakni pada 18 September dan kembali pada 24 September 2026. Kondisi ini kemudian mendorong Satgas MBG Kabupaten Pati memberikan teguran kepada SPPG Karangrejo serta merekomendasikan penghentian sementara atau suspend kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
BUKAN SEKADAR SOAL ULAT
Pada kejadian terbaru, Kamis (24/9/2026), ulat ditemukan siswa ketika sedang menyantap menu MBG.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Prestasi SMK BTB Juwana, Muhammad Nur Rohim, menjelaskan bahwa ulat tersebut ditemukan pada buah matoa yang menjadi bagian dari paket makanan.
Pihak sekolah kemudian melaporkan temuan itu kepada PIC/SPPG penyedia MBG dan meminta adanya evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Persoalannya menjadi lebih serius karena sebelumnya, pada 18 September, juga terjadi temuan organisme serupa dalam menu MBG di sekolah tersebut.
Saat kejadian pertama mencuat, Kepala SPPG Karangrejo Juwana, Siswono Yoga Utama, menyampaikan permintaan maaf dan menjelaskan bahwa yang ditemukan merupakan ulat, bukan belatung, serta menyebut berasal dari selada. Ia juga menyatakan akan melakukan evaluasi dan memperketat SOP.
SATGAS MBG TURUN TANGAN
Berulangnya kejadian membuat persoalan tidak lagi berhenti pada permintaan maaf dan evaluasi internal.
Ketua Satgas MBG Kabupaten Pati, Risma Ardhi Chandra, menyatakan pihaknya telah mengecek kondisi menu serta dapur SPPG Karangrejo.
Satgas kemudian memberikan surat peringatan dan menyampaikan rekomendasi kepada BGN agar SPPG tersebut disuspend sementara. Keputusan akhir mengenai tindak lanjut suspend berada pada BGN.
KEPERCAYAAN ORANG TUA DIPERTARUHKAN
Bagi sekolah, persoalan ini bukan semata tentang adanya ulat pada satu jenis makanan.
Program MBG menyentuh langsung konsumsi makanan anak-anak sekolah. Karena itu, pengawasan bahan baku, proses pengolahan, hingga pemeriksaan makanan sebelum didistribusikan menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan siswa dan orang tua.
Pihak sekolah sebelumnya juga meminta agar quality control terhadap makanan diperketat sehingga siswa tidak ragu mengonsumsi MBG.
DARI TEMUAN KECIL MENJADI EVALUASI BESAR
Kasus di SMK BTB Juwana menunjukkan bahwa pengawasan keamanan pangan menjadi tantangan penting dalam pelaksanaan MBG.
Apalagi, pada 25 September 2026, Satgas MBG Pati juga menyatakan seluruh 172 SPPG di Kabupaten Pati direncanakan dipasangi CCTV yang terkoneksi dengan Dinas Kominfo Pati sebagai bagian dari upaya pengawasan dapur penyedia MBG.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengawasan tidak hanya diarahkan pada satu dapur. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada bagaimana standar kebersihan, pemeriksaan bahan baku, dan quality control benar-benar dijalankan di lapangan.
Dua kali temuan ulat dalam waktu kurang dari sepekan kini menjadi alarm bagi pelaksanaan MBG di Pati: makanan yang diberikan kepada siswa bukan hanya harus bergizi, tetapi juga harus melewati proses pengawasan keamanan pangan yang ketat.
Red.












