BUSERPOST.COM | PATI — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati kembali menjadi sorotan. Sebanyak 55 santri Pondok Pesantren Darul Falah, Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG pada Rabu (14/10/2026).
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius mengenai keamanan pangan dan pengawasan makanan yang disalurkan kepada para santri. Namun, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Puluhan Santri Mengeluh Pusing, Mual, dan Diare
Gejala mulai dirasakan para santri pada Rabu malam sekitar pukul 22.00 WIB. Keluhan yang dilaporkan meliputi pusing, mual, muntah, dan diare.
Berdasarkan laporan sejumlah media lokal, dari total 55 santri yang mengalami gejala, sebanyak 28 orang dibawa ke RSUD Rehatta, Kelet, Kabupaten Jepara. Sebanyak 25 santri mendapatkan penanganan di Klinik Kesehatan Askara, sedangkan dua lainnya dibawa ke Puskesmas Cluwak.
Kepala Puskesmas Cluwak, Sunarto, menyampaikan bahwa sebagian besar santri telah mendapatkan penanganan medis. Pada Kamis (15/10/2026), seorang santri dilaporkan masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Meski gejala muncul setelah para santri mengonsumsi MBG, hubungan sebab-akibatnya belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan medis dan laboratorium tersedia.
SPPG Ngablak Cluwak 002 Disetop Sementara
Dapur penyedia makanan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngablak Cluwak 002, menjadi perhatian setelah kejadian tersebut.
Ketua Satgas MBG Kabupaten Pati, Risma Ardhi Chandra, membenarkan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) telah menerbitkan rekomendasi penghentian sementara operasional SPPG tersebut.
Langkah itu dilakukan sambil menunggu pemeriksaan dan evaluasi lebih lanjut. Hingga laporan terakhir yang dipublikasikan pada 17 Oktober 2026, belum ada kepastian mengenai kapan operasional dapur akan kembali dibuka.
Sampel Makanan Diperiksa, Penyebab Belum Terungkap
Menu yang dikonsumsi para santri dilaporkan terdiri atas nasi, sup, ayam ketumbar, bakwan tahu, dan melon.
Sampel makanan telah dikirim untuk pemeriksaan laboratorium di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Pemeriksaan tersebut diharapkan membantu mengungkap apakah gangguan kesehatan yang dialami para santri berkaitan dengan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, atau faktor lain.
Hasil pemeriksaan menjadi penting agar kesimpulan tidak didasarkan pada dugaan semata.
Pengawasan MBG Harus Menjadi Prioritas
Kasus ini menjadi pengingat bahwa program pemenuhan gizi bagi anak-anak tidak cukup hanya memastikan makanan tersedia dan dibagikan tepat waktu. Keamanan bahan pangan, kebersihan dapur, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi harus mendapat pengawasan serius.
Pemerintah daerah, BGN, Dinas Kesehatan, dan pihak pengelola perlu memastikan setiap tahapan memenuhi standar keamanan pangan. Jika ditemukan pelanggaran, tindakan harus dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.
Orang tua dan masyarakat juga berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai perkembangan penanganan kasus ini, tanpa menyebarkan kesimpulan yang belum terbukti.
BUSERPOST.COM menegaskan: keselamatan penerima manfaat harus menjadi prioritas. Program yang bertujuan meningkatkan gizi anak wajib disertai pengawasan ketat, transparansi hasil pemeriksaan, dan evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sumber media












