SEMARANG. BUSERPOST.COM — Perguruan tinggi dinilai tidak boleh sekadar menjadi tempat perkuliahan, pencetak gelar, atau penghasil jurnal ilmiah. Kampus harus berani turun langsung menjawab persoalan masyarakat dan ikut menentukan arah pembangunan bangsa.
Pesan tersebut ditegaskan Rektor Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Prof. Dr. H. Gunarto, S.E., S.H., M.H., dalam pidatonya yang menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu kekuatan intelektual dan moral dalam membangun Indonesia.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi penonton. Perguruan tinggi harus menjadi tulang punggung kemajuan bangsa,” tegas Gunarto.
Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas, seminar, maupun publikasi akademik. Ilmu harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata yang memberikan dampak bagi masyarakat.
“Ilmu pengetahuan harus turun ke bumi. Ilmu harus menjadi amal. Riset harus menjadi kebijakan. Kampus harus menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.
Birrul Walidain untuk Bangsa
Dalam pidatonya, Gunarto juga mengangkat nilai birrul walidain, yang selama ini dikenal sebagai kewajiban berbakti kepada kedua orang tua.
Nilai tersebut, menurutnya, dapat diperluas dalam konteks kehidupan berbangsa. Generasi saat ini menikmati kemerdekaan, pendidikan, dan pembangunan berkat perjuangan generasi terdahulu. Karena itu, insan akademik memiliki kewajiban moral untuk membalas jasa tersebut melalui ilmu dan pengabdian.
“Apa bentuk birrul walidain kita sebagai insan akademik terhadap bangsa dan negara? Jawabannya adalah menggunakan ilmu untuk membalas jasa bangsa,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap orientasi pendidikan tinggi yang hanya mengejar capaian administratif dan akademik tanpa memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Dari Research Menuju Impact
Gunarto mendorong perubahan paradigma perguruan tinggi. Kampus tidak cukup berhenti pada pola research–publication–graduation, tetapi harus bergerak menuju research–policy–implementation–impact.
Artinya, penelitian harus mampu membaca kebutuhan masyarakat, hasilnya dapat digunakan sebagai bahan kebijakan, dan perguruan tinggi ikut mengawal implementasinya hingga menghasilkan perubahan nyata.
“Universitas tidak boleh hanya berkata: kami sudah melakukan penelitian. Tetapi harus berani berkata: kami ikut bertanggung jawab agar pengetahuan itu benar-benar memberi perubahan,” tegasnya.
Pandangan tersebut menempatkan akademisi bukan sekadar sebagai pengamat persoalan bangsa, melainkan sebagai bagian dari ekosistem pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah.
Kampus Harus Berada di Tengah Persoalan Bangsa
Gunarto menyebut berbagai persoalan seperti kemiskinan, ketahanan pangan, lingkungan, energi, kesehatan, pendidikan, pertanahan, tata ruang, hukum, ekonomi, teknologi hingga transformasi digital membutuhkan kontribusi perguruan tinggi.
Kampus, menurutnya, tidak seharusnya berdiri jauh dari persoalan masyarakat.
“Kampus harus berada di tengah persoalan. Kampus harus menjadi co-architect pembangunan bangsa,” katanya.
Dengan posisi tersebut, perguruan tinggi diharapkan bukan hanya menjadi mitra pemerintah dalam penelitian, tetapi turut merancang, mengawal, dan mengevaluasi kebijakan pembangunan.
UNISSULA Didorong Melahirkan Pemimpin Berintegritas
Secara khusus, Gunarto menegaskan bahwa UNISSULA harus mengambil bagian dalam tanggung jawab tersebut.
UNISSULA, kata dia, tidak boleh hanya menjadi tempat memperoleh gelar. Kampus harus menjadi ruang lahirnya manusia yang memiliki ilmu, iman, akhlak, kompetensi, sekaligus keberanian mengambil tanggung jawab.
Ia berharap mahasiswa tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa.
“Kita ingin melahirkan sarjana yang ketika melihat persoalan bangsa tidak bertanya, ‘Apa keuntungan saya?’ Tetapi terlebih dahulu bertanya, ‘Apa yang dapat saya lakukan untuk bangsa ini?’”
Ia juga menekankan pentingnya melahirkan doktor yang menghasilkan pemikiran yang dapat memengaruhi kebijakan serta profesor yang meninggalkan warisan pemikiran dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Bukan Pabrik Gelar
Salah satu kritik paling kuat dalam pidato tersebut diarahkan pada cara mengukur keberhasilan perguruan tinggi.
Menurut Gunarto, keberhasilan universitas tidak semestinya hanya dihitung dari jumlah lulusan, publikasi ilmiah, profesor, maupun peringkat institusi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak persoalan bangsa yang berhasil dibantu penyelesaiannya, berapa banyak kebijakan publik yang menjadi lebih baik melalui kontribusi akademisi, dan berapa banyak kehidupan masyarakat yang berubah karena ilmu pengetahuan.
“Universitas bukan pabrik gelar. Universitas adalah tempat membangun peradaban,” tegasnya.
Akademisi Diminta Berani Keluar dari Zona Nyaman
Gunarto juga mengingatkan akademisi agar tidak terjebak dalam kenyamanan ruang seminar.
Diskusi, penelitian, penulisan, dan kritik memang penting. Namun, menurutnya, bangsa membutuhkan sesuatu yang lebih besar: solusi dan keberanian untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Karena itu, ia mengajak seluruh keluarga besar UNISSULA untuk tidak menjadi penonton pembangunan Indonesia.
“Jangan menjadi penonton pembangunan Indonesia. Jadilah pelaku. Jadilah penggerak. Jadilah pemberi solusi. Jadilah bagian dari kekuatan yang membangun Indonesia.”
Pada akhirnya, pesan pidato tersebut bermuara pada satu gagasan: perguruan tinggi harus mengembalikan ilmu kepada masyarakat dalam bentuk manfaat nyata.
Gunarto menegaskan bahwa masa depan Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah, dunia usaha, atau masyarakat, tetapi juga sangat ditentukan oleh perguruan tinggi.
“UNISSULA harus hadir untuk Indonesia. UNISSULA harus berani mengambil tanggung jawab. UNISSULA harus menjadi bagian dari solusi.”
Pidato tersebut ditutup dengan ajakan menjadikan ilmu sebagai ibadah, penelitian sebagai pengabdian, universitas sebagai pusat solusi, serta pengabdian kepada bangsa sebagai bentuk birrul walidain kepada Indonesia.
Dari kampus untuk bangsa. Dari ilmu untuk kemanusiaan. Dari UNISSULA untuk Indonesia.
Ditulis oleh : Widhi Handoko












