Pasar Malam Meriahkan Malam Maulid di Sukolilo, Tradisi Meron Jadi Magnet Warga dan Penggerak Ekonomi

PATI —BuserPost.com.  Malam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, tak hanya menghadirkan nuansa religius. Di tengah lestarinya tradisi Meron, kawasan desa berubah menjadi ruang keramaian yang mempertemukan tradisi, hiburan, dan geliat ekonomi warga.

Pantauan di lokasi, Rabu malam (26/8/2026), suasana pasar malam tampak ramai. Lampu warna-warni menghiasi arena permainan, sementara bianglala menjadi salah satu pusat perhatian pengunjung. Sejumlah wahana permainan anak dan lapak pedagang makanan turut memenuhi kawasan acara.

Keramaian juga terlihat dari aktivitas transaksi para pedagang. Aneka makanan dan minuman dijajakan kepada pengunjung yang datang bersama keluarga. Bagi pedagang kecil, momentum peringatan Maulid Nabi sekaligus tradisi Meron bukan sekadar pesta rakyat, tetapi peluang untuk menggerakkan pendapatan.

Di sisi lain, kehadiran pasar malam menunjukkan bagaimana tradisi keagamaan di Sukolilo telah berkembang menjadi ruang sosial yang jauh lebih luas. Warga tidak hanya datang untuk mengikuti rangkaian peringatan, tetapi juga menikmati hiburan, berbelanja, dan berkumpul bersama keluarga.

Tradisi Meron sendiri merupakan tradisi khas Desa Sukolilo yang berkaitan erat dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sejumlah sumber sejarah dan penelitian menyebut Meron memiliki kemiripan dengan tradisi Sekaten di lingkungan Kesultanan Mataram dan telah diwariskan secara turun-temurun.

Dalam pelaksanaannya, Meron identik dengan gunungan yang dihias menggunakan berbagai makanan tradisional, termasuk ampyang, cucur dan once. Tradisi tersebut menjadi salah satu penanda kuat identitas budaya masyarakat Sukolilo.

Namun, di balik kemeriahan lampu wahana dan padatnya lapak pedagang, ada satu pesan penting yang tidak boleh hilang: tradisi bukan hanya tontonan.

Meron mempunyai nilai sejarah, religius, sosial, sekaligus ekonomi. Ketika masyarakat datang, pedagang memperoleh pembeli; ketika UMKM berjualan, uang berputar di tingkat lokal; dan ketika generasi muda ikut hadir, tradisi memiliki ruang untuk terus dikenali.

Tantangannya adalah bagaimana keramaian semacam ini tidak berhenti sebagai pesta tahunan. Pengelolaan kebersihan, keamanan, ketertiban, kenyamanan pengunjung, serta pemberdayaan pedagang lokal menjadi pekerjaan yang sama pentingnya dengan menjaga prosesi budayanya.

Sebab, mempertahankan Meron bukan semata-mata mempertahankan sebuah acara. Yang dipertaruhkan adalah identitas Sukolilo—agar warisan budaya tidak sekadar dikenang karena kemeriahannya, tetapi juga tetap hidup, memiliki nilai ekonomi, dan dipahami maknanya oleh generasi berikutnya.

Dari gunungan Meron hingga lapak makanan dan wahana pasar malam, malam Maulid di Sukolilo memperlihatkan satu wajah tradisi yang terus bergerak: religius, kultural, sekaligus ekonomis.

Red.